Loading...

Keheningan Emosional dalam Intensive Short-Term Dynamic Psychotherapy (ISTDP)

01 Desember 2025
Author : admin
Bagikan

Pain is inevitable. Suffering is optional.” — Dr. Habib Davanloo

Ada rasa sakit yang datang karena hidup, dan ada penderitaan yang muncul karena kita menolak untuk merasakannya. Sebagian besar dari kita tidak takut pada emosi itu sendiri, kita takut pada apa yang mungkin terjadi jika kita benar-benar merasakannya. 

Dari ketakutan inilah Intensive Short-Term Dynamic Psychotherapy (ISTDP) lahir: sebuah pendekatan terapi yang mengajak kita berhadapan langsung dengan lapisan terdalam diri sendiri, di mana emosi terpendam selama bertahun-tahun menunggu untuk dikenali.

 

Terapi yang Menembus Keheningan

ISTDP dikembangkan oleh Dr. Habib Davanloo pada tahun 1960-an di McGill University, Kanada. Berangkat dari teori psikoanalisis klasik, Davanloo melihat pola berulang pada pasien: di balik kecemasan, depresi, atau gangguan relasi, selalu ada emosi yang diblokir. Perasaan marah, sedih, atau kehilangan sering kali tidak sempat diproses karena trauma masa lalu—dan tubuh pun belajar untuk menahannya. Namun, yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang. Ia bersembunyi di balik gejala fisik, kecemasan tanpa sebab, bahkan sikap dingin dalam hubungan. ISTDP bekerja dengan cara menembus blokade bawah sadar ini. Alih-alih sekadar berbicara tentang masalah, terapi ini menyoroti apa yang sebenarnya dirasakan pasien—di saat itu juga.

 

Segitiga Konflik: Merasakan, Bukan Menjelaskan

Dalam praktiknya, ISTDP berfokus pada tiga elemen utama yang disebut “segitiga konflik”: feeling (perasaan), anxiety (kecemasan), dan defense (pertahanan diri). Ketika seseorang mulai menyentuh emosi yang terpendam, tubuhnya secara otomatis akan bereaksi—kadang dengan tegang, sulit bernapas, atau menutup diri. Alih-alih mengabaikan reaksi itu, terapis membantu pasien menyadarinya. Dengan keberanian yang terbangun secara bertahap, pasien belajar menelusuri jalan menuju perasaan yang dulu dianggap berbahaya. Bagi sebagian orang, momen ini terasa seperti “menembus tembok.” Air mata mengalir bukan karena kelemahan, tetapi karena tubuh akhirnya berhenti berperang melawan dirinya sendiri.



Membongkar Pertahanan yang Menyamar sebagai Kekuatan

Davanloo berpendapat bahwa manusia membangun berbagai bentuk pertahanan psikologis untuk bertahan hidup. Ada yang selalu “berpikir logis” saat sedih (intellectualization), ada yang menertawakan rasa sakitnya (minimization), ada pula yang menutup diri agar tidak terluka lagi (withdrawal). Pertahanan ini pernah melindungi kita — namun dalam jangka panjang, justru menghalangi kita untuk terhubung dengan diri sendiri dan orang lain.

Dalam ISTDP, terapis secara aktif membantu pasien mengenali pertahanan tersebut, menunjukkan harga yang harus dibayar untuk setiap lapisan perlindungan itu. Proses ini bukan konfrontasi agresif, melainkan tindakan welas asih: membantu seseorang berhenti menyakiti dirinya sendiri dengan cara yang tidak ia sadari.

 

Antara Rasa Takut dan Keberanian

Setiap emosi yang dihindari, entah kemarahan terhadap orang tua, kesedihan karena kehilangan, atau cinta yang tak terucap, menyimpan energi yang luar biasa. Ketika pasien mampu menghadapinya, bukan hanya gejala psikologis yang mereda, tetapi juga keluhan fisik seperti ketegangan otot, nyeri perut, atau sesak napas. Penelitian menunjukkan bahwa ISTDP efektif mengurangi gejala depresi, gangguan kecemasan, hingga nyeri kronis, dan bahkan terbukti lebih unggul dari terapi perilaku kognitif pada kasus tertentu. Davanloo menggambarkan proses ini sebagai “breakthrough to feeling” — momen ketika seseorang akhirnya berani merasakan seluruh intensitas emosinya tanpa terseret atau hancur karenanya. Dalam ruang terapi, keberanian seperti ini sering kali menjadi awal dari penyembuhan sejati.

 

Mengakhiri Penderitaan yang Tidak Perlu

ISTDP tidak meniadakan rasa sakit, ia justru mengajarkan cara menanggungnya dengan sadar. Karena yang membuat kita menderita bukanlah rasa sakit itu sendiri, melainkan perlawanan terhadapnya. Terapi ini mengajarkan bahwa di balik setiap kecemasan dan pertahanan, selalu ada cinta, kehilangan, dan kebutuhan untuk terhubung kembali.

Ketika seseorang bisa menghadapi emosinya tanpa lari, tubuh menjadi tenang, pikiran jernih, dan hubungan dengan diri sendiri mulai pulih. Dengan kata lain, ISTDP bukan sekadar terapi emosi, ia adalah latihan keberanian untuk hidup lebih utuh.

Penutup: Menyentuh Inti Manusia

Dalam dunia psikoterapi yang penuh metode dan pendekatan, ISTDP berdiri sebagai pengingat bahwa perubahan mendalam terjadi bukan karena banyak bicara, tapi karena berani merasa. Seperti yang diyakini Davanloo, terapi adalah bentuk cinta yang aktif — membantu seseorang memotong rantai pertahanan yang menahannya dari dirinya sendiri. 

 

Pada akhirnya, tujuan ISTDP sederhana namun transformatif: Membantu manusia menemukan kembali keheningan di dalam dirinya — keheningan yang muncul ketika kita berhenti melawan, dan mulai menerima apa yang sesungguhnya kita rasakan.

 

Assessment Indonesia adalah biro psikologi resmi yang menjadi pusat asesmen psikologi terpercaya, serta vendor psikotes terbaik di Indonesia.

 

Referensi : 

Abbass, Allan . “What Is Intensive Short-Term Dynamic Psychotherapy?” Allan Abbass, reachingthroughresistance.com/intensive-short-term-dynamic-psychotherapy/.

Frederickson, Jon . “Intensive Short Term Dynamic Psychotherapy: An Introduction.” ISTDP Institute, https://tinyurl.com/3fzd3hrv

Johansson, Robert, et al. “Davanloo’s Intensive Short-Term Dynamic Psychotherapy in a Tertiary Psychotherapy Service: Overall Effectiveness and Association between Unlocking the Unconscious and Outcome.” PeerJ, vol. 2, 28 Aug. 2014, p. e548, https://doi.org/10.7717/peerj.548.

 

Bagikan
Terapi Psikologi Masalah Psikologi Tes Psikologi

Temukan Solusi Psikologis Anda Hari Ini

Lihat layanan psikologi kami atau Anda dapat menghubungi kami