Di era kerja digital, banyak karyawan merasa hari kerjanya penuh dengan aktivitas, tetapi di akhir hari justru muncul perasaan bahwa pekerjaan penting belum benar-benar selesai. Rasa “sibuk tapi tidak produktif” ini menjadi pengalaman yang cukup umum di banyak kantor Indonesia, terutama sejak penggunaan berbagai aplikasi kerja dan sistem komunikasi daring semakin intensif. Meski terlihat sepele, kondisi ini dapat memengaruhi kepuasan kerja dan kepercayaan diri karyawan jika terjadi terus-menerus.
Lingkungan kerja digital membuat aktivitas kerja menjadi sangat beragam. Karyawan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, menghadiri beberapa rapat daring, membalas pesan, dan menyusun laporan secara bersamaan. Secara kasat mata, semua aktivitas ini menunjukkan kesibukan. Namun, dari sudut pandang psikologi, kesibukan tidak selalu berarti produktivitas. Produktivitas berkaitan dengan sejauh mana energi mental digunakan untuk menyelesaikan tugas yang benar-benar bermakna.
Rasa sibuk sering muncul karena banyaknya tugas kecil yang harus ditangani secara cepat. Membalas pesan, membaca email, atau menghadiri rapat singkat memberi kesan bahwa pekerjaan terus berjalan. Aktivitas-aktivitas ini memberikan kepuasan sesaat karena terasa menyelesaikan sesuatu, meskipun belum tentu berkontribusi besar pada hasil kerja utama. Secara psikologis, otak cenderung menyukai tugas-tugas cepat yang mudah ditutup, sehingga individu tanpa sadar menghindari tugas yang membutuhkan fokus lebih dalam.
Di lingkungan kerja Indonesia, kesibukan sering diasosiasikan dengan dedikasi dan tanggung jawab. Karyawan yang terlihat selalu aktif dan responsif dianggap bekerja keras. Akibatnya, banyak individu merasa perlu mempertahankan citra sibuk, meskipun sebenarnya hal tersebut mengganggu fokus pada pekerjaan inti. Kondisi ini membuat karyawan terjebak dalam rutinitas yang padat aktivitas, tetapi minim progres yang dirasakan.
Rasa tidak produktif juga dapat dipicu oleh kurangnya kejelasan prioritas. Dalam sistem kerja digital, berbagai permintaan datang hampir bersamaan dan sering kali dianggap sama pentingnya. Tanpa arahan yang jelas, karyawan menghabiskan energi mental untuk menentukan apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Kebingungan ini menguras fokus dan membuat individu merasa lelah, meskipun hasil kerjanya belum terlihat signifikan.
Asesmen psikologi membantu organisasi memahami bagaimana karyawan mengatur fokus, energi, dan prioritas kerjanya. Melalui asesmen, dapat dilihat kecenderungan individu dalam menghadapi banyak tugas sekaligus, cara mereka mengelola perhatian, serta respons psikologis terhadap tekanan waktu. Pemahaman ini membantu organisasi melihat bahwa rasa tidak produktif tidak selalu berkaitan dengan kemampuan, tetapi juga dengan cara kerja dan tuntutan lingkungan.
Dengan hasil asesmen psikologi, organisasi dapat menyesuaikan pembagian tugas dan alur kerja agar lebih realistis. Karyawan yang mudah terdistraksi dapat dibantu dengan struktur kerja yang lebih jelas, sementara karyawan yang cepat bosan dengan tugas rutin dapat diberi variasi pekerjaan yang tetap terarah. Pendekatan ini membantu karyawan merasakan kemajuan kerja yang lebih nyata tanpa menambah beban.
Bagi karyawan, pemahaman psikologis ini juga membantu mengurangi rasa bersalah akibat merasa tidak produktif. Ketika individu memahami bahwa rasa tersebut merupakan respons terhadap pola kerja digital, bukan kegagalan pribadi, mereka dapat mulai mengelola cara kerjanya dengan lebih sehat. Lingkungan kerja pun menjadi lebih mendukung, bukan sekadar menuntut.
Dalam jangka panjang, pengelolaan rasa “sibuk tapi tidak produktif” membantu meningkatkan kepuasan kerja. Karyawan yang merasakan hasil nyata dari pekerjaannya cenderung lebih termotivasi dan memiliki hubungan kerja yang lebih positif. Asesmen psikologi berperan sebagai alat bantu untuk menciptakan sistem kerja digital yang tidak hanya ramai aktivitas, tetapi juga bermakna.
Kesimpulan
Rasa “sibuk tapi tidak produktif” merupakan pengalaman umum di lingkungan kerja digital dan sering kali muncul akibat banyaknya aktivitas kecil, kurangnya fokus, serta ketidakjelasan prioritas. Kondisi ini tidak selalu menunjukkan rendahnya kinerja, melainkan respons psikologis terhadap pola kerja yang padat dan cepat. Asesmen psikologi membantu organisasi memahami cara kerja karyawan secara lebih mendalam, sehingga sistem kerja dapat disesuaikan agar karyawan tidak hanya sibuk, tetapi juga merasa produktif dan puas dengan pekerjaannya.
Biro psikologi Assessment Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi:
Cascio, W. F., & Aguinis, H. (2018). Applied Psychology in Human Resource Management. Routledge.
Schultz, D., & Schultz, S. E. (2016). Psychology and Work Today. Routledge.
Anastasi, A., & Urbina, S. (2010). Psychological Testing. Pearson Education.
Azwar, S. (2012). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mangkunegara, A. A. A. P. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya.