Loading...

Ketika Luka yang Kita Dapat dari Ibu Diam-Diam Tumbuh Bersama Kita

15 Desember 2025
Author : admin
Bagikan

The love of a mother is peace. It need not be acquired, it need not be deserved.” 

— Erich Fromm

 

Ada ikatan yang begitu purba antara seorang anak dan ibunya ikatan yang terbentuk bahkan sebelum kelahiran, ketika dunia luar belum memberi bentuk apa pun selain kehangatan dan detak jantung. Namun tidak semua perjalanan pengasuhan berlangsung hangat dan merata. Di balik kedekatan yang kita bayangkan ideal, ada pengalaman yang lebih sunyi: kekecewaan, kehampaan, atau ketidakhadiran emosional yang tidak pernah diberi nama.

 

Dalam psikologi, dinamika ini sering disebut mother wound—luka emosional yang muncul ketika figur ibu tidak mampu hadir secara hangat, konsisten, atau responsif. Ini bukan diagnosis, bukan label yang menuding, dan bukan pula cara menyalahkan ibu. Mother wound hanyalah cara untuk memahami bahwa pengalaman emosional di masa kecil dapat ikut membentuk cara kita mencintai, memandang diri sendiri, dan merasa aman di dunia.

 

Luka yang Tidak Selalu Tampak, tetapi Terasa

Mother wound dapat muncul dari pola pengasuhan yang dingin, penuh kritik, terlalu menuntut, tidak stabil, atau bahkan sangat minim kehadiran emosional. Bukan berarti ibu tidak mencintai tetapi ada jarak yang tidak terjembatani, ada respons yang tidak tiba ketika anak membutuhkannya. Dampaknya bisa sangat halus:

  • Rasa tidak aman saat menjalin kedekatan dengan orang lain.

  • Kesulitan mengekspresikan kebutuhan atau menetapkan batas.

  • Kecenderungan menyalahkan diri ketika ada konflik.

  • Perasaan kosong atau kebutuhan terus-menerus untuk mencari validasi.

  • Kesulitan merasa “cukup,” meski secara objektif semuanya baik-baik saja.

Bagi sebagian orang, keheningan emosional dari ibu lebih menyakitkan dibanding kemarahan.




Mengapa Luka Ini Terbentuk?

Tidak ada ibu yang lahir sempurna.  Banyak faktor yang membuat pengasuhan menjadi tidak stabil:

  • Ibu yang dibesarkan tanpa kehangatan dari ibunya sendiri.

  • Tekanan ekonomi, sosial, atau budaya yang membuat emosi harus “ditekan.”

  • Kondisi psikologis yang tidak tertangani.

  • Pola asuh yang dingin, kritis, atau penuh tuntutan perfeksionisme.

  • Ketidakhadiran fisik dan emosional karena pekerjaan, stres, atau konflik rumah tangga.

Sering kali, mother wound adalah warisan yang tidak disengaja rantai pengalaman emosional yang terulang dari generasi ke generasi.

 

Apa Artinya Ini untuk Kesejahteraan Emosional?

Luka pengasuhan tidak membentuk seseorang menjadi “rusak,” tetapi ia bisa memengaruhi cara kita merasakan dunia. Dalam relasi, seseorang mungkin:

  • Takut bergantung karena pernah merasa dikecewakan.

  • Menjadi terlalu mandiri hingga menolak bantuan apa pun.

  • Selalu ingin menjadi “sempurna” agar dianggap layak dicintai.

  • Menekan kebutuhan pribadi karena terbiasa menyesuaikan diri.

Pola-pola ini tidak salah mereka hanyalah strategi bertahan hidup masa kecil yang terbawa hingga dewasa.

 

Menatap Luka dengan Lembut

Membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri sering dimulai dengan menerima bahwa luka itu memang ada. Prosesnya tidak instan, tetapi beberapa langkah kecil dapat membantu:

  • Membuat ruang aman untuk merasakan tidak perlu menghakimi perasaan sedih, kecewa, atau marah.

  • Mengenal kembali inner child yang dulu tidak mendapatkan kehangatan.

  • Membatasi ekspektasi tak realistis terhadap ibu maupun diri sendiri.

  • Mengizinkan perspektif baru bahwa orang tua pun adalah manusia yang membawa luka mereka sendiri.

  • Mencari dukungan profesional untuk membantu memetakan emosi yang rumit.

Menyembuhkan mother wound bukan tentang menuduh, tetapi tentang membebaskan diri dari pola yang tidak lagi relevan untuk kehidupan dewasa kita.

 

Penutup: Luka Ini Bisa Pulih

Tidak ada masa kecil yang sempurna. Tidak ada ibu yang tanpa cela. Dan bukan tugas kita untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Namun, memahami mother wound dapat menjadi pintu bagi banyak orang untuk akhirnya merawat diri dengan cara yang tidak mereka dapatkan dulu.

 

Karena pada akhirnya, perjalanan menjadi dewasa adalah perjalanan untuk memberi pada diri sendiri apa yang dulu tidak sempat diterima: kehangatan, kepastian, dan izin untuk tumbuh dengan luka tanpa perlu terjebak di dalamnya. Jika kamu ingin, aku bisa buat artikel lanjutan tentang father wound, parentification, atau inner child untuk melengkapi seri tema pengasuhan.

 

Assessment Indonesia adalah biro psikologi resmi yang menjadi pusat asesmen psikologi terpercaya, serta vendor psikotes terbaik di Indonesia.

 

Referensi : 

Humas Panti Rapih. “Mother Wound: Luka “Warisan” Dari Ibu - Rumah Sakit Panti Rapih.” Rumah Sakit Panti Rapih, 3 Mar. 2023, pantirapih.or.id/rspr/mother-wound-luka-warisan-dari-ibu/. Accessed 2 Dec. 2025.

Lewis, Rhona. “The Mother Wound: What It Is and How to Heal.” Healthline, 29 Sept. 2020, www.healthline.com/health/mother-wound.

Bagikan
Terapi Psikologi Trauma dan Pemulihan Masalah Psikologi

Temukan Solusi Psikologis Anda Hari Ini

Lihat layanan psikologi kami atau Anda dapat menghubungi kami