Loading...

Kilau yang Tak Selalu Terlihat: Menyentuh Kompleksitas Histrionic Personality Disorder

17 Desember 2025
Author : admin
Bagikan

We are not what we pretend to be, so we must be careful about what we pretend to be.” 

— Kurt Vonnegut

 

Ada orang-orang yang memasuki ruangan seperti cahaya dengan ekspresi yang hidup, cerita yang mengalir, dan kehadiran yang seketika memikat. Di permukaan, semuanya tampak penuh warna. Namun di balik pancaran yang memukau itu, sering tersimpan kerentanan emosional yang jauh lebih sunyi. Dalam psikologi klinis, dinamika ini dikenal sebagai Histrionic Personality Disorder (HPD), sebuah kondisi yang termasuk dalam kategori gangguan kepribadian cluster B. HPD bukan sekadar “suka perhatian”—ia adalah pola interaksi yang telah terbentuk sejak lama, dibentuk oleh pengalaman emosional, relasi, dan cara seseorang belajar mendapatkan kasih sayang di masa awal kehidupannya.

 

Akar Historis yang Panjang dan Berliku

Konsep HPD memiliki sejarah yang sangat panjang, bahkan bermula sejak ribuan tahun lalu ketika istilah “hysteria” muncul dalam teks Mesir Kuno dan Yunani. Seiring waktu, persepsi tentang kondisi ini berubah dari pemahaman spiritual, moral, hingga neurologis, dan akhirnya psikodinamik. HPD hari ini adalah bentuk modern yang lebih terstruktur—bukan lagi tentang mitos “rahim yang mengembara”, melainkan tentang pola hubungan dan emosi yang kompleks.

 

Yang perlu digarisbawahi: HPD bukanlah karakter lemah, bukan drama, dan bukan pula bentuk mencari perhatian secara sengaja. Ia adalah pola adaptasi emosional yang terbentuk sejak lama.

 

Gaya Emosi yang Intens, Relasi yang Rumit

Seseorang dengan kecenderungan histrionik tidak hidup dalam intensitas yang “pura-pura”. Mereka sungguh merasakan emosi secara besar, cepat, dan bergelombang. Masalah muncul ketika ekspresi emosinya menjadi respons satu-satunya yang mereka kenal untuk mendapatkan kedekatan. Tanpa memberi ruang pada stigma atau stereotipe, beberapa ciri umumnya meliputi:

  • Emosi yang berubah cepat dan tampak lebih dramatis dari konteksnya.

  • Ketidaknyamanan ketika tidak menjadi pusat perhatian.

  • Cara berkomunikasi yang ekspresif, penuh warna, dan kadang terlalu impresif.

  • Ketergantungan yang tinggi pada validasi interpersonal.

  • Kesulitan membangun relasi yang stabil dan mendalam.

  • Cara memandang diri yang cenderung ditentukan oleh persepsi orang lain.

Penting: artikel ini tidak dimaksudkan untuk diagnosis diri. HPD hanya dapat dinilai oleh tenaga profesional melalui proses evaluasi yang menyeluruh.

 

Psikologi di Balik Pola Ini

Banyak teori menjelaskan HPD, mulai dari psikoanalisis hingga model kognitif. Meski berbeda pendekatan, beberapa benang merahnya sama:

  • Ada keyakinan mendalam bahwa cinta atau perhatian harus “diperjuangkan”.

  • Ada ketakutan akan penolakan atau kehilangan, meski tidak selalu disadari.

  • Ada pengalaman masa kecil yang mengajarkan bahwa penerimaan datang melalui daya tarik, ekspresi emosi yang besar, atau kesediaan menjadi “menarik”.

 

Mengapa HPD Bisa Mempersulit Keseharian?

Di balik keceriaan dan kehangatan, banyak individu dengan HPD menyimpan:

  • rasa hampa,

  • kesulitan mengenal kebutuhan diri,

  • sensitivitas tinggi terhadap kritik,

  • pergantian suasana hati yang cepat,

  • atau relasi interpersonal yang penuh naik turun.

Kerap kali, orang datang ke ruang konseling bukan karena sadar memiliki pola histrionik, tetapi karena merasa lelah dengan siklus hubungan, merasa kosong, atau terjebak dalam konflik emosional yang berulang.

 

Pendekatan yang Paling Membantu

HPD bukan perjalanan yang tidak dapat diubah. Banyak pendekatan terapi membantu individu menemukan ritme yang lebih stabil dan relasi yang lebih sehat, misalnya:

  • psikoterapi psikodinamik,

  • terapi kognitif-perilaku,

  • terapi analitik-kognitif,

  • terapi interpersonal,

  • hingga terapi berbasis skema.

 

Sebagian besar berfokus pada tiga hal: 

mengenali pola, mengolah emosi, dan membangun relasi yang lebih dewasa dan otentik.

 

Penutup: Di Balik Sorot Cahaya, Ada Kemanusiaan

HPD bukan tentang drama atau pencarian perhatian. Ia adalah kisah manusia—tentang seseorang yang belajar tampil menonjol karena dulu merasa terlalu mudah terabaikan; seseorang yang belajar mengekspresikan emosi karena dulu tidak ada ruang untuk didengar; seseorang yang belajar memikat karena takut ditinggalkan. Jika dipahami dengan lembut, HPD bukan akhir dari cerita. Ia justru awal dari perjalanan untuk menemukan diri yang lebih stabil, lebih jujur, dan lebih utuh—tanpa harus selalu bersinar terang agar terlihat.

 

Temukan layanan asesmen psikologi terbaik hanya di biro psikologi resmi Assessment Indonesia, mitra terpercaya untuk kebutuhan psikotes.

 

Referensi : 

Kellett, Stephen. “A Time Series Evaluation of the Treatment of Histrionic Personality Disorder with Cognitive Analytic Therapy.” Psychology and Psychotherapy: Theory, Research and Practice, vol. 80, no. 3, Sept. 2007, pp. 389–405, https://doi.org/10.1348/147608306x161421.

Novais, Filipa, et al. “Historical Roots of Histrionic Personality Disorder.” Frontiers in Psychology, vol. 6, no. 1463, 25 Sept. 2015, www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2015.01463/full, https://doi.org/10.3389/fpsyg.2015.01463.

Bagikan
Terapi Psikologi Edukasi Psikologi Masalah Psikologi

Temukan Solusi Psikologis Anda Hari Ini

Lihat layanan psikologi kami atau Anda dapat menghubungi kami