Identitas digital anak terbentuk dari jejak daring yang dibuat oleh orang tua maupun lingkungan sekitar. Foto, video, dan cerita yang dibagikan di media sosial dapat membentuk gambaran tentang anak yang bertahan dalam jangka panjang. Paparan ini berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis anak.
Dalam perspektif psikologi, identitas merupakan proses dinamis yang berkembang seiring waktu. Ketika identitas digital anak terbentuk lebih dulu sebelum anak mampu memahami dirinya sendiri, hal ini dapat menimbulkan konflik identitas. Anak mungkin merasa terikat pada citra yang tidak sepenuhnya merepresentasikan dirinya.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan identitas digital sejak dini dapat memengaruhi harga diri dan kesejahteraan emosional anak. Anak berisiko merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi yang dibentuk oleh citra daring tersebut.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan dampak psikologis dari pembentukan identitas digital anak. Perlindungan terhadap privasi anak merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan mentalnya di masa depan.
Assessment Indonesia sebagai vendor psikotes profesional menyediakan layanan asesmen psikologi terbaik untuk perusahaan dan individu.
Referensi:
Erikson, E. H. (1968). Identity youth and crisis. Norton Journal.
Ouvrein, G., & Verswijvel, K. (2019). Sharenting and digital identity. Journal of Children and Media.
Kumar, P., & Schoenebeck, S. (2015). Online identity and parenting. Proceedings of CSCW.