Komunikasi digital sering kali berlangsung cepat dan singkat. Pesan disampaikan melalui teks tanpa ekspresi wajah atau intonasi suara. Kondisi ini menimbulkan tantangan dalam menumbuhkan empati karena individu harus menafsirkan emosi orang lain dengan informasi yang terbatas.
Dalam psikologi komunikasi, empati berkembang melalui pemahaman konteks dan emosi lawan bicara. Komunikasi digital yang minim konteks dapat memicu kesalahpahaman dan reaksi emosional yang kurang tepat. Hal ini sering terlihat dalam konflik di media sosial.
Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya empati dalam komunikasi digital berkaitan dengan meningkatnya perilaku kasar dan tidak sensitif. Oleh karena itu, individu perlu belajar memperlambat respons dan mempertimbangkan sudut pandang orang lain sebelum berkomunikasi secara daring.
Menumbuhkan empati dalam komunikasi digital membutuhkan kesadaran, refleksi, dan tanggung jawab sosial agar ruang digital tetap aman dan suportif.
Assessment Indonesia sebagai vendor psikotes profesional menyediakan layanan asesmen psikologi terbaik untuk perusahaan dan individu.
Referensi:
Kiesler, S., et al. (1984). Social psychological aspects of computer mediated communication. American Psychologist.
Sproull, L., & Kiesler, S. (1991). Connections new ways of working. MIT Press Journal.
Baron Cohen, S. (2011). Zero degrees of empathy. Penguin Journal.